Jumlah yang udah baca blog ini

Tampilkan postingan dengan label Istanbul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istanbul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 5-The End)

Di hari keempat atau hari terakhir di Istanbul ini kami akan makan-makan di Local Fish Restaurant, Tour Selat Bosphorus, dan kemudian bersiap terbang ke Madinah untuk melanjutkan perjalanan umroh di Mekah. 
Perjalanan pertama kami adalah makan siang di restaurant yang terletak di Pasar Ikan Istanbul (tentunya kami sudah breakfast di hotel dan menghabiskan waktu bebas hingga waktu keberangkatan yaa...). Di Pasar Ikan ini terdapat banyak sekali restauran seafood dan berjejer sepanjang area. Kami pun berhenti di sebuah restaurant bernama Kosem Kumkapi. Seperti layaknya pilihan menu seafood di Indonesia, kami pun makan beberapa menu seafood seperti ikan, udang, dan jenis lainnya. Sayangnya saya lupa, menu apa saja yang saya makan. Hihihi.


***

Sebuah masjid di tepi Selat Bosphorus
Selesai makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Selat Bosphorus untuk menikmati Bosphorus Cruise alias tour menikmati Selat Bosphorus menggunakan kapal ferry. 

Seperti yang saya jelaskan pada postingan sebelumnya, Selat Bosphorus ini adalah selat yang memisahkan antara Turki Asia dan Turki Eropa serta menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki panjang 30 km, dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisarı dan Rumelihisarı. Kedalamannya bervariasi antara 36 sampai 124 meter.

Terdapat dua jembatan yang  dapat digunakan untuk menyeberangi Selat Bosporus, yang pertama adalah Bosphorus Bridge dengan panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973 dan Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter yang diselesaikan pada 1988 dan terletak sekitar 5 km sebelah utara jembatan pertama.

Bosphorus Cruise ini adalah cara yang paling menyenangkan untuk menikmati Istanbul. Menikmati keindahan Istanbul Asia dan Istanbul Eropa di sisi sebelah kiri dan kanan dengan keindahan yang berbeda dan ditemani udara sepoi-sepoi musim semi (lebih nyaris ke dingin sih) ditambah langit yang cerah, akan membuat kita lantas menggumam "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan."

Rumah-rumah mewah
Ketika menyusuri Selat Bosphorus, kita akan dapat melihat beberapa bangunan bersejarah yang terlihat dari selat, diantaranya adalah Blue Mosque yang menjulang tinggi, Istana Dolmabahce, Istana Topkapi, Maiden Tower, Masjid Ortakoy, dan Benteng Rumeli Hisari. Bahkan kita juga dapat melihat rumah-rumah mewah di tepian selat serta kapal-kapal pesiar mewah yang sedang berlabuh.

Jika menonton sinetron Turki, Canzu dan Hazal, pasti kita memperhatikan rumah Canzu yang mewah itu di tepian Selat Bosphorus. Hanya orang super kaya saja yang bisa memiliki rumah di tepian Selat Bosphorus ini karena harganya bisa mencapai ratusan milyar rupiah. 

Kapal pesiar yang sedang berlabuh
Kapal pesiar yang sedang berlabuh
Untuk kapal pesiar yang terlihat berlabuh di Selat Bosphorus ini adalah kapal pesiar yang sedang berkeliling dunia dan singgah di beberapa kota. Biasanya kapal ini merapat di suatu kota selama beberapa hari lalu kemudian melanjutkan perjalanannya lagi mengelilingi dunia. Mantaapp....



Restaurant mahal diatas "pulau" buatan
Bendera Turki di puncak bukit
Jika memperhatikan secara detil di sepanjang Selat Bosphorus, terdapat banyak sekali bangunan, bahkan restaurant sekalipun yang mengibarkan bendera kebangsaan Turki. Menurut local guide kami, pemerintah Turki memang mewajibkan untuk mengibarkan bendera tersebut di beberapa tempat guna menumbuhkan rasa nasionalisme pada rakyatnya. 

Maiden Tower dari kejauhan
Meiden Tower atau yang memiliki nama lain Leander Menara atau Tower of Leandros berada di ujung selatan Selat Bosphorus. Pada zaman Bizantium dan jaman kekhalifahan Ottoman (Utsmaniyah) menara ini sempat menjadi menara pemantau masuknya kapal-kapal ke perairan Turki. Kemudian sekitar tahun 1731 dan 1734 menara ini berubah fungsi menjadi menara mercusuar dan sempat menjadi stasiun karantina. Saat ini menara ini menjadi kafe dan restoran yang populer dan mahal. Jika menonton drama Turki yang berjudul Shehrazat, pada scene pembukanya selalu nampak gambar menara ini.


Jembatan Galata
Jembatan Galata adalah jembatan yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Turki dengan cara backpaker. Jembatan yang menghubungkan old city dan modern city di Istanbul ini dibangun pada tahun 1836. Sampai dengan tahun 1980-an tempat ini masih terkenal sebagai tempat pembuangan limbah industri. Akan tetapi setelah dibersihkan, jembatan ini justru ramai dikunjungi wisatawan. Jembatan yang terletak pada Golden Horn ini bagian tengahnya sering dilalui kapal-kapal. Kemudian pada satu tingkat di bawah jembatan terdapat banyak kedai makanan atau restauran yang menyediakan seafood. Menyantap seafood dengan suguhan pemandangan yang indah, tentunya adalah hal yang tidak boleh dilewatkan jika memiliki waktu lebih untuk mengeksplore Istanbul. Kami pun melihat banyak orang memancing ikan di atas jembatan galata.





***

Setelah packing barang-barang, kami pun bersiap meninggalkan Istanbul untuk melanjutkan ibadah umroh. Dikarenakan waktu check in pesawat yang masih lama, kami pun mengunjungi mall dekat Bandara Attaturk yang bernama Marmara Forum. Terus terang mallnya sepiii sekali. Mungkin karena jauh dari pusat kota ya. 



Eh, ada jatomi. Sama nggak ya kayak jatomi fitness di kuningan city tempat kita pulang kantor ?
***

Ternyata kami sampai di bandara sekian jam lebih cepat. Hal ini untuk mengantisipasi kemacetan kota Istanbul yang konon hampir sama dengan jakarta. Dikarenakan kami pun belum mendapatkan boarding pass-nya, maka kami pun tidak tahu kapan jadwal keberangkatan pesawat kami. Akhirnya kami hanya duduk-duduk manis di ruang tunggu sampai dipanggil oleh pendamping tour kami, yaitu A'deda, adik dari Aa'gym.

Ternyata waktu menunggu lebih lama dari yang saya bayangkan. Kerongkongan pun mulai haus. Sayangnya saya tidak menemukan kran dengan air siap minum seperti di bandara changi. Sialnya juga, uang turki lira sengaja saya habiskan sebelum bertolak ke Madinah karena malas menyimpan uang asing atau menukarkan uang asing yang sudah tidak digunakan lagi.  

Saya pun menghabiskan waktu dengan berkeliling bandara sambil berpikir dengan kerongkongan yang haus. Alhasil dengan berat hati saya pun menggunakan kartu kredit saya untuk "pertama kalinya berbelanja" di merchant cafe bandara (sebelumnya saya hanya menggunakan untuk membeli tiket pesawat online). Saya pun hanya membeli 3 botol air mineral ukuran 500 ml (yang setelah dikonversi ke rupiah senilai Rp. 64.000). Sebenarnya saya sempat melirik turkish delight di duty free bandara dan tergoda lagi untuk berbelanja menggunakan kartu kredit. Tapi syukurlah saya masih kuat iman untuk tidak berbelanja lagi. Hahaha.





"HOPE TO SEE YOU BACK IN ISTANBUL SOON"............ INSHAALLAH....

Selasa, 10 Mei 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 4)

Di hari ketiga kami akan mengunjungi Istana Dolmabahce, menyeberangi selat Bosphorus lewat Bosphorus Bridge  dan mengunjungi Camlica Hill di Istanbul Asia.

Dinas Pertamanan sedang mengganti bunga-bunga di taman
***

Menuju Istana Dolamabahce 
atau Beylerbeyi Sarayi
Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Istana Dolmabahce yang terletak di distrik Beşiktaş di pantai Selat Bosphorus, Istanbul Eropa. Konon istana ini adalah istana termegah di jamannya dan terinspirasi dari Istana Versailles di Prancis.



Istana Dolmabahce dibangun pada masa Kesultanan Abdul Mecid I, yang merupakan Sultan Ottoman ketiga puluh dan dibangun antara tahun 1843 dan 1856. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar lima juta koin emas Ottoman Mecidiye atau setara dengan 35 ton emas. Wow. Menurut informasi dari local guidenya, istana inilah yang menjadi salah satu bukti penyebab runtuhnya kekhalifahan pada masa itu. Sama seperti sejarah yang berulang, dimana kehancuran suatu negeri dapat disebabkan oleh godaan "Harta, Tahta, dan Wanita". Jika kita menonton drama dari Turki di ANTV yang berjudul Abad Kejayaan, tentunya kita akan paham apa yang terjadi di masa itu dimana godaan "Harta, Tahta, dan Wanita" mengambil peranan penting pada hancurnya kekhalifahan yang dibangun susah payah oleh Muhammad Al Fatih setelah merebut Kostantinopel dari Bangsa Romawi. Kemegahan istana ini merupakan salah satu gambaran bahwa terjadi penghamburan harta yang berlebihan hanya untuk sebuah pembangunan istana yang membutuhkan hingga 35 ton emas.

Bosphorus Bridge dan Selat Bosphorus

My lovely mom


Kemegahan istana ini semakin tampak jelas ketika kita memasukinya. Untuk memasuki istana ini kita diwajibkan menggunakan sarung sepatu yang terbuat dari plastik kresek dengan tujuan agar karpet istana tidak kotor. Pengunjung juga tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar selama berada di dalam istana. Istana ini memiliki luas 45.000 m2 (11,2 hektar) dan berisi 285 kamar, 46 aula, 6 tempat pemandian dan 68 toilet. Istana ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Mabeyn Imperial (Ruang Kenegaraan), Muayede Salon (Hall Upacara) dan Imperial Harem. Mabeyn Imperial dialokasikan untuk urusan administrasi negara, Imperial Harem dialokasikan untuk kehidupan pribadi sultan dan keluarganya dan Muayede Salon yang terletak di antara Mabeyn Imperial & Imperial Harem, dialokasikan menyambut negarawan dalam beberapa acara kenegaraan penting. Semua material bangunan berasal dari bahan-bahan nomor wahid, termasuk keramik biru khas Turki yang menghiasi langit-langit dan tiang pondasi bangunan.


Terletak di tepian Selat Bosphorus, istana ini sangat cocok jika digunakan sebagai tempat peristirahatan musim panas. Mustafa Kemal Ataturk yang mendapat julukan "Bapak Turki Modern" menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medis di Istana Dolmabahce. Ia meninggal pada 10 November 1938. Ruang perawatan medis ini kemudian dikenal sebagai Ruang Ataturk dan jarum jam yang terdapat di ruang Ataturk dibiarkan tetap menunjukkan angka 09.05 dimana merupakan menunjukkan waktu kematiannya.



Istana Dolmabahce dilihat dari Selat Bosphorus

***

Melewati Bosphorus Bridge
Kota Istanbul terletak di dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa. Karena itulah wajah-wajah orang Turki pun tampan-tampan dan cantik-cantik, bagai sebuah percampuran antara darah Eropa dan darah Asia (khususnya arab). Terkait dengan kondisi geografis yang terdiri dari Istanbul Asia dan Istanbul Eropa dan dipisahkan oleh Selat Bosphorus, menariknya adalah hal ini juga mempengaruhi perbedaan laju pertumbuhan ekonomi di Istanbul Asia dan Istanbul Eropa. Hal ini nampak jelas ketika kami mengunjungi selat Bosphorus dimana rumah-rumah mewah tampak lebih banyak di Istanbul Eropa. Sedangkan Istanbul Asia memiliki laju perekonomian yang lebih rendah. Begitupun harga tanah di keduanya, sungguh berbeda jauh. Mungkin hal ini juga disebabkan sebagian besar pusat kebudayaan dan perekonomian berada pada Istanbul Eropa. Bahkan Istanbul Eropa pun lebih tinggi pamornya sebagai tempat kunjungan wisata dibandingkan Ankara yang justru merupakan ibukota dari Turki.

Selat Bosphorus dilihat dari atas jembatan
Setelah mengunjungi Istana Dolmabahce kami menyeberangi Bosphorus Bridge untuk mencapai Istanbul yang berada pada benua Asia. Di Istanbul Asia ini kami dapat mengunjungi bukit yang bernama Camlica Hill. Camlica Hill terletak di distrik Uskudar, Istanbul dengan ketinggian 268 meter (879 ft) di atas permukaan laut.

Taman di Bukit Camlica.
Sumber Foto: Wikipedia







Camlica Hill menyajikan pemandangan yang indah, yaitu bagian selatan selat Bosphorus beserta Bosphorus Bridge dan Golden Horn. Di atas bukit terdapat kafe-kafe dan taman-taman bunga. Sebuah menara televisi dan menara pemancar radio juga berada di puncak bukit. Menurut local guide kami, banyak calon pasangan yang memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat foto prawedding karena pemandangannya yang indah. Bahkan saat kami sampai ke lokasi ini, terdapat sepasang calon pengantin menggunakan pakaian pengantin sedang mengambil gambar.


Dikarenakan ibu dan almarhum bapak agak malas untuk turun dari bis dan naik ke atas bukit, maka saya sedikit kurang bersemangat mengeksplore bukit ini. Duh, padahal tempatnya oke banget buat selpi-selpian. Huhuhu.....

Menuju puncak bukit terdapat beberapa penjual makanan ringan seperti jagung bakar, Es krim Turki dan Es krim Wall's !!! Eh, tunggu.... Logonya sih nampak seperti Wall's tapi merk yang tertulis adalah "Paylas". Asumsi sementara sih merk ini digunakan untuk menyesuaikan dengan lidah penduduk setempat yang mungkin kesulitan mengucapkan kata-kata "Wall's".

Paylas
Sambil menunggu peserta lainnya yang naik ke puncak bukit, saya pun membeli Es Krim Turki. Es krim Turki ini memiliki khas tersendiri, salah satunya adalah bahan pembuatannya yang berasal dari bunga anggrek, susu, gula, dan getah pohon mastic. Getah pohon mastic inilah yang membuat tekstur es krim Turki menjadi kenyal, elastis, dan tidak mudah meleleh. Tekstur yang elastis dan tidak mudah leleh inilah yang membuat si penjual selalu menampilkan atraksinya sebelum benar-benar memberikan es krimnya pada si pembeli. Atraksi khasnya adalah dengan seolah-olah akan memberikan es tersebut kepada pembeli, tetapi kemudian ternyata pemberian es tersebut hanya tipuan. Adegan ini dilakukan berulang kali sampai pembeli terkecoh dan tertawa. Awalnya sih tertawa, tapi lama-lama KEZEL juga dikerjain sampai rasanya pingin bilang, "Hey, please stop your attraction, give me my ice creaaam !!!" Hahaha. Eh, gak sampai gitu juga sih. Ternyata atraksi pengecoh si tukang es krim Turki ini berlaku dimana-mana, termasuk di counter es krim Turki di Indonesia sekali pun.

Jumat, 15 April 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 3)

Hari kedua di Istanbul kami akan mengunjungi Blue Mosque, Hippodrome, Topkapi Palace, dan Grand Bazaar.

Blue Mosque
   
Blue Mosque
Istanbul memiliki sebuah area kota tua yang bernama Sultanahmed Square dimana di sekitar area tersebut terdapat beberapa bangunan bersejarah Turki seperti Hagia Sophia (yang saya ceritakan sebelumnya), Blue Mosque, Hippodrome, dan Topkapi Palace. Tidak afdhol rasanya jika ke Turki tetapi belum mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan menawan di area ini. Setelah di hari sebelumnya kami mengunjungi Hagia Sophia, di hari kedua kami mengunjungi Blue Mosque. Sama seperti sebelumnya, dimana tempat parkir bis berada jauh dari lokasi, maka kami harus berjalan lumayan jauh dari tempat penurunan kami ke area Sultanahmed Square. 

Roti khas Turki: Simit.
Bentuknya seperti donut ditabur wijen.
Bisa request diisi nutella juga.
Sebenarnya saya agak khawatir dengan almarhum bapak yang tidak kuat berjalan jauh karena nyeri sendi di bagian pinggang. Namun, jalanan kota tua Istanbul yang naik turun dan berpaving batu khas jaman kerajaan tidak memungkinkan saya untuk menggunakan kursi roda. Kebetulan ada 2 orang rombongan lainnya yang juga tidak kuat berjalan karena nyeri sendi. Tetapi mereka pun berusaha untuk tetap kuat berjalan. Alhamdulillah almarhum bapak juga termotivasi karena kedua orang tersebut tetap berusaha terus berjalan. 

***

Kemegahan Blue Mosque
Blue Mosque atau Masjid Biru memiliki nama resmi Masjid Sultanahmet. Nama Masjid Sultanahmet diberikan karena masjid ini dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada tahun 1609-1616. Awalnya masjid ini dibangun untuk menandingi kemegahan Hagia Sophia yang sebelumnya adalah sebuah gereja. Masjid ini dinamakan Masjid Biru atau Blue Mosque karena pada bagian dalam masjid interiornya dihiasi oleh marmer berwarna biru. Marmer biru ini disebut-sebut merupakan khas dari negara Turki dan banyak juga digunakan di Istana Dolmabahce. Bahkan mungkin awal mula timbulnya souvenir khas Turki, yaitu "Blue Eye" juga karena Turki memiliki khas marmer birunya. Tempat kerajinan keramik terbaik adalah di daerah Iznik, dimana keramik yang dihasilkan adalah keramik nomor wahid berwarna biru, hijau, ungu, dan putih.

Bagian depan Blue Mosque
Bagian dalam Blue Mosque dari lantai2
Beruntung saat kami mengunjungi tempat ini tepat di hari Jumat sehingga kami bisa merasakan sholat Jumat di masjid ini. Kebetulan kami yang wanita juga dapat mengikuti sholat Jumat di lantai atas. Sungguh perjuangan untuk mencapai lantai atas masjid ini. Jangan dibayangkan bahwa kita akan menemukan tangga yang nyaman untuk naik ke lantai atas, tapi tangga yang kita temukan disini hampir nyaris seperti sebuah tangga menuju loteng, curam dan kecil. Bahkan ketika sudah berada di lantai atas pun, lantainya nampak seperti semen yang tidak rata yang dialasi oleh karpet. Ketidakrataan lantai masih dapat terasa ketika kita menapakkan kaki di lantai. Sesampainya saya di lantai atas, saya menemukan banyak wanita Turki sudah menunggu sholat Jumat dimulai. Dikarenakan saya mengunjungi masjid ini dalam rangka sholat Jumat dan kondisinya ramai, maka saya tidak bebas memotret bagian dalam masjid.

Bagian dalam Blue Mosque
Seperti halnya masjid yang saya kunjungi sebelumnya, masjid ini juga menggunakan lampu gantung dengan kabel yang lumayan panjang dari ujung kubah dan lampu baru terpasang tidak jauh dari lantai. Sepertinya pemasangan lampu yang memiliki kabel yang panjang dikarenakan rata-rata masjid di Turki memiliki kubah yang lumayan tinggi sehingga diharapkan lampu dapat lebih efisien ketika berada lebih dekat dengan lantai. Penerangan masjid di bagian kubah pun lebih mengandalkan kaca patri yang memungkinkan begitu banyak cahaya yang masuk ke dalam masjid.

***

Masih berada di kawasan Sultanahmed Square, terdapat situs bersejarah lain yang dapat kami kunjungi, namanya Hippodrome.  

Hipodrome adalah sebuah area yang saat ini dinamakan Sultanahmet Meydani (Lapangan Sultan Ahmet). Pada masa kekuasaan Kekaisaran Bizantium, area ini adalah pusat sosial dan olahraga di Konstantinopel. Kata “hipodrom” berasal dari kata Yunani “hippos” yaitu “kuda” dan “dromos” yang berarti “jalur” atau “jalan”. Menurut cerita si local guide, pada masa itu area ini merupakan area pacuan kuda. Kekaisaran Romawi pun menghiasi area ini dengan beberapa karya seni seperti tiang ular dan obelisk. Kesultanan Utsmani atau Ottoman tetap menjaga wilayah bersejarah ini, namun bagian atas tiang ular dihancurkan dan dicuri pada masa Perang Salib keempat.

Obelisk

Obelisk


Patung ular

***

Topkapi Palace
Gerbang masuk Topkapi Palace
Pintu Masuk Topkapi Palace
Bagian dalam istana (dapur istana)
Masih berada di lingkungan Sultanahmed Square, selanjutnya kami mengunjungi Topkapi Palace. Topkapi Palace merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah atau Ottoman selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Kepentingan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena sultan lebih suka menghabiskan waktu di istana baru mereka di dekat selat Bosporus, yaitu istana Dolmabahce. Pada tahun 1856, Sultan Abd-ul Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahce. Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum. Terdapat beberapa jenis museum disini, sedangkan yang saya masuki adalah museum peninggalan Nabi Muhammad SAW serta museum peninggalan Kesultanan Utsmaniyah. Namun yang paling populer dan memiliki antrian paling panjang adalah museum peninggalan Nabi Muhammad SAW.



Jalan masuk yang dihiasi bunga-bunga
Setelah pintu kedua, wisatawan memasuki jalan panjang setapak selebar 4 meter. Bunga-bunga menghiasi jalan setapak. Sungguh cantik. Pada saat saya mengunjungi tempat ini, adalah peralihan musim semi ke musim panas, sehingga bunga-bunga yang menghiasi sepanjang jalan adalah bunga mawar beraneka warna. Menurut saya, musim yang paling tepat mengunjungi Turki adalah awal musim semi dimana Dinas Pertamanan Istanbul (sebut saja begitu) akan mengganti semua bunga-bunga baik di jalanan umum maupun di tempat-tempat wisata dengan bunga Tulip. Ternyata bunga Tulip bukan berasal dari Belanda, tapi dari Turki. Sedangkan Dinas Pertamanan Istanbul paling concern dengan keindahan kotanya dimana bunga akan rutin diganti sesuai musim. 



Bagian dalam istana (saya lupa, apa ini)
Bangunan Istana Topkapi terbagi atas empat bagian besar yang dipisahkan oleh tiga gerbang utama. Pada bagian pertama istana terdapat sebuah gereja yang dibangun orang Romawi dan saat ini digunakan sebagai gedung teater. Di bagian kedua istana terdapat hareem section, paviliun, dapur, ruang pertemuan, dan barak militer. Pada bagian ketiga Istana Topkapi terdapat sekolah untuk murid berumur 10 tahun. Semua anak-anak tersebut dipilih oleh sultan dari berbagai pelosok Turki. Sedangkan tempat tinggal para sultan berada di kawasan keempat.


Pintu masuk museum peninggalan Nabi Muhammad SAW

Museum peninggalan Nabi Muhammad terletak setelah kawasan keempat. Di dalam ruangan ini tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Terdapat beberapa peninggalan Nabi Muhammad seperti gigi, jenggot, jubah, dan pedang. Begitupula dengan jubah peninggalan Fatimah, serta pedang-pedang sahabat Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga terdapat beberapa benda terkait dengan Baitullah seperti talang emas, pintu ka'bah, gembok ka'bah, dan penutup hajar aswad. Melihat peninggalan-peninggalan tersebut secara tidak sadar kita akan merasa merinding membayangkan keadaan di masa lalu, membayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Dan saya pun semakin merinding ketika dalam perjalanan menuju pintu keluar museum terdengar lantunan ayat suci Al-Quran dengan suara yang sungguh merdu. Tadinya saya berpikir bahwa itu adalah suara kaset. Tapi betapa terkejutnya saya ketika seorang Turki sedang duduk bersila dengan pakaian khas Turki dan Al-Quran di hadapannya sedang mengaji. Menurut informasi, lantunan ayat suci Al Quran ini dibacakan selama 24 jam selama museum ini berdiri dengan 3 orang yang bergantian membaca Al Quran untuk "menjaga barang-barang pusaka" yang ada di dalamnya. Subhanallah.

Selat Bosphorus terlihat dari dalam istana
Di sebelah museum peninggalan Nabi Muhammad juga terdapat museum keramik dan peninggalan kesultanan Utsmaniyah, namun tidak terlalu populer. 

***

Selanjutnya kami berkunjung ke Grand Bazaar untuk membeli oleh-oleh. Wah, bisa kalap di pasar ini. Katanya sih ini pasar tertutup terbesar dan tertua di dunia. Bayangkan saja, pasar ini memiliki 61 jalan tertutup dan lebih dari 3.000 toko (sumber: wikipedia). Pantas saja ketika kami diberikan waktu bebas untuk berbelanja, kami diharuskan menghapal jalan yang dilewati agar kami dapat kembali ke meeting point, yaitu di masjid yang tidak jauh dari Grand Bazaar. Terus terang saya tidak berani "cuci mata" sampai ke ujung pasar karena khawatir nyasar. Hahaha. Jadilah saya hanya berbelanja di kios-kios terdepan.

Ada beberapa oleh-oleh khas Turki seperti gantungan Blue Eyes/Evil Eyes (gantungan semacam mata satu berwarna biru yang diyakini orang jaman dulu sebagai jimat), Turkish delight (semacam manisan khas Turki dengan beberapa isian kacang-kacangan, yang paling enak isi kacang Pistachio), coat khas Turki, jilbab khas Turki, dompet atau rajutan-rajutan khas Turki.