Jumlah yang udah baca blog ini

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan ke Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan ke Turki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 4)

Di hari ketiga kami akan mengunjungi Istana Dolmabahce, menyeberangi selat Bosphorus lewat Bosphorus Bridge  dan mengunjungi Camlica Hill di Istanbul Asia.

Dinas Pertamanan sedang mengganti bunga-bunga di taman
***

Menuju Istana Dolamabahce 
atau Beylerbeyi Sarayi
Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Istana Dolmabahce yang terletak di distrik Beşiktaş di pantai Selat Bosphorus, Istanbul Eropa. Konon istana ini adalah istana termegah di jamannya dan terinspirasi dari Istana Versailles di Prancis.



Istana Dolmabahce dibangun pada masa Kesultanan Abdul Mecid I, yang merupakan Sultan Ottoman ketiga puluh dan dibangun antara tahun 1843 dan 1856. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar lima juta koin emas Ottoman Mecidiye atau setara dengan 35 ton emas. Wow. Menurut informasi dari local guidenya, istana inilah yang menjadi salah satu bukti penyebab runtuhnya kekhalifahan pada masa itu. Sama seperti sejarah yang berulang, dimana kehancuran suatu negeri dapat disebabkan oleh godaan "Harta, Tahta, dan Wanita". Jika kita menonton drama dari Turki di ANTV yang berjudul Abad Kejayaan, tentunya kita akan paham apa yang terjadi di masa itu dimana godaan "Harta, Tahta, dan Wanita" mengambil peranan penting pada hancurnya kekhalifahan yang dibangun susah payah oleh Muhammad Al Fatih setelah merebut Kostantinopel dari Bangsa Romawi. Kemegahan istana ini merupakan salah satu gambaran bahwa terjadi penghamburan harta yang berlebihan hanya untuk sebuah pembangunan istana yang membutuhkan hingga 35 ton emas.

Bosphorus Bridge dan Selat Bosphorus

My lovely mom


Kemegahan istana ini semakin tampak jelas ketika kita memasukinya. Untuk memasuki istana ini kita diwajibkan menggunakan sarung sepatu yang terbuat dari plastik kresek dengan tujuan agar karpet istana tidak kotor. Pengunjung juga tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar selama berada di dalam istana. Istana ini memiliki luas 45.000 m2 (11,2 hektar) dan berisi 285 kamar, 46 aula, 6 tempat pemandian dan 68 toilet. Istana ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Mabeyn Imperial (Ruang Kenegaraan), Muayede Salon (Hall Upacara) dan Imperial Harem. Mabeyn Imperial dialokasikan untuk urusan administrasi negara, Imperial Harem dialokasikan untuk kehidupan pribadi sultan dan keluarganya dan Muayede Salon yang terletak di antara Mabeyn Imperial & Imperial Harem, dialokasikan menyambut negarawan dalam beberapa acara kenegaraan penting. Semua material bangunan berasal dari bahan-bahan nomor wahid, termasuk keramik biru khas Turki yang menghiasi langit-langit dan tiang pondasi bangunan.


Terletak di tepian Selat Bosphorus, istana ini sangat cocok jika digunakan sebagai tempat peristirahatan musim panas. Mustafa Kemal Ataturk yang mendapat julukan "Bapak Turki Modern" menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medis di Istana Dolmabahce. Ia meninggal pada 10 November 1938. Ruang perawatan medis ini kemudian dikenal sebagai Ruang Ataturk dan jarum jam yang terdapat di ruang Ataturk dibiarkan tetap menunjukkan angka 09.05 dimana merupakan menunjukkan waktu kematiannya.



Istana Dolmabahce dilihat dari Selat Bosphorus

***

Melewati Bosphorus Bridge
Kota Istanbul terletak di dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa. Karena itulah wajah-wajah orang Turki pun tampan-tampan dan cantik-cantik, bagai sebuah percampuran antara darah Eropa dan darah Asia (khususnya arab). Terkait dengan kondisi geografis yang terdiri dari Istanbul Asia dan Istanbul Eropa dan dipisahkan oleh Selat Bosphorus, menariknya adalah hal ini juga mempengaruhi perbedaan laju pertumbuhan ekonomi di Istanbul Asia dan Istanbul Eropa. Hal ini nampak jelas ketika kami mengunjungi selat Bosphorus dimana rumah-rumah mewah tampak lebih banyak di Istanbul Eropa. Sedangkan Istanbul Asia memiliki laju perekonomian yang lebih rendah. Begitupun harga tanah di keduanya, sungguh berbeda jauh. Mungkin hal ini juga disebabkan sebagian besar pusat kebudayaan dan perekonomian berada pada Istanbul Eropa. Bahkan Istanbul Eropa pun lebih tinggi pamornya sebagai tempat kunjungan wisata dibandingkan Ankara yang justru merupakan ibukota dari Turki.

Selat Bosphorus dilihat dari atas jembatan
Setelah mengunjungi Istana Dolmabahce kami menyeberangi Bosphorus Bridge untuk mencapai Istanbul yang berada pada benua Asia. Di Istanbul Asia ini kami dapat mengunjungi bukit yang bernama Camlica Hill. Camlica Hill terletak di distrik Uskudar, Istanbul dengan ketinggian 268 meter (879 ft) di atas permukaan laut.

Taman di Bukit Camlica.
Sumber Foto: Wikipedia







Camlica Hill menyajikan pemandangan yang indah, yaitu bagian selatan selat Bosphorus beserta Bosphorus Bridge dan Golden Horn. Di atas bukit terdapat kafe-kafe dan taman-taman bunga. Sebuah menara televisi dan menara pemancar radio juga berada di puncak bukit. Menurut local guide kami, banyak calon pasangan yang memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat foto prawedding karena pemandangannya yang indah. Bahkan saat kami sampai ke lokasi ini, terdapat sepasang calon pengantin menggunakan pakaian pengantin sedang mengambil gambar.


Dikarenakan ibu dan almarhum bapak agak malas untuk turun dari bis dan naik ke atas bukit, maka saya sedikit kurang bersemangat mengeksplore bukit ini. Duh, padahal tempatnya oke banget buat selpi-selpian. Huhuhu.....

Menuju puncak bukit terdapat beberapa penjual makanan ringan seperti jagung bakar, Es krim Turki dan Es krim Wall's !!! Eh, tunggu.... Logonya sih nampak seperti Wall's tapi merk yang tertulis adalah "Paylas". Asumsi sementara sih merk ini digunakan untuk menyesuaikan dengan lidah penduduk setempat yang mungkin kesulitan mengucapkan kata-kata "Wall's".

Paylas
Sambil menunggu peserta lainnya yang naik ke puncak bukit, saya pun membeli Es Krim Turki. Es krim Turki ini memiliki khas tersendiri, salah satunya adalah bahan pembuatannya yang berasal dari bunga anggrek, susu, gula, dan getah pohon mastic. Getah pohon mastic inilah yang membuat tekstur es krim Turki menjadi kenyal, elastis, dan tidak mudah meleleh. Tekstur yang elastis dan tidak mudah leleh inilah yang membuat si penjual selalu menampilkan atraksinya sebelum benar-benar memberikan es krimnya pada si pembeli. Atraksi khasnya adalah dengan seolah-olah akan memberikan es tersebut kepada pembeli, tetapi kemudian ternyata pemberian es tersebut hanya tipuan. Adegan ini dilakukan berulang kali sampai pembeli terkecoh dan tertawa. Awalnya sih tertawa, tapi lama-lama KEZEL juga dikerjain sampai rasanya pingin bilang, "Hey, please stop your attraction, give me my ice creaaam !!!" Hahaha. Eh, gak sampai gitu juga sih. Ternyata atraksi pengecoh si tukang es krim Turki ini berlaku dimana-mana, termasuk di counter es krim Turki di Indonesia sekali pun.

Jumat, 15 April 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 3)

Hari kedua di Istanbul kami akan mengunjungi Blue Mosque, Hippodrome, Topkapi Palace, dan Grand Bazaar.

Blue Mosque
   
Blue Mosque
Istanbul memiliki sebuah area kota tua yang bernama Sultanahmed Square dimana di sekitar area tersebut terdapat beberapa bangunan bersejarah Turki seperti Hagia Sophia (yang saya ceritakan sebelumnya), Blue Mosque, Hippodrome, dan Topkapi Palace. Tidak afdhol rasanya jika ke Turki tetapi belum mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan menawan di area ini. Setelah di hari sebelumnya kami mengunjungi Hagia Sophia, di hari kedua kami mengunjungi Blue Mosque. Sama seperti sebelumnya, dimana tempat parkir bis berada jauh dari lokasi, maka kami harus berjalan lumayan jauh dari tempat penurunan kami ke area Sultanahmed Square. 

Roti khas Turki: Simit.
Bentuknya seperti donut ditabur wijen.
Bisa request diisi nutella juga.
Sebenarnya saya agak khawatir dengan almarhum bapak yang tidak kuat berjalan jauh karena nyeri sendi di bagian pinggang. Namun, jalanan kota tua Istanbul yang naik turun dan berpaving batu khas jaman kerajaan tidak memungkinkan saya untuk menggunakan kursi roda. Kebetulan ada 2 orang rombongan lainnya yang juga tidak kuat berjalan karena nyeri sendi. Tetapi mereka pun berusaha untuk tetap kuat berjalan. Alhamdulillah almarhum bapak juga termotivasi karena kedua orang tersebut tetap berusaha terus berjalan. 

***

Kemegahan Blue Mosque
Blue Mosque atau Masjid Biru memiliki nama resmi Masjid Sultanahmet. Nama Masjid Sultanahmet diberikan karena masjid ini dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada tahun 1609-1616. Awalnya masjid ini dibangun untuk menandingi kemegahan Hagia Sophia yang sebelumnya adalah sebuah gereja. Masjid ini dinamakan Masjid Biru atau Blue Mosque karena pada bagian dalam masjid interiornya dihiasi oleh marmer berwarna biru. Marmer biru ini disebut-sebut merupakan khas dari negara Turki dan banyak juga digunakan di Istana Dolmabahce. Bahkan mungkin awal mula timbulnya souvenir khas Turki, yaitu "Blue Eye" juga karena Turki memiliki khas marmer birunya. Tempat kerajinan keramik terbaik adalah di daerah Iznik, dimana keramik yang dihasilkan adalah keramik nomor wahid berwarna biru, hijau, ungu, dan putih.

Bagian depan Blue Mosque
Bagian dalam Blue Mosque dari lantai2
Beruntung saat kami mengunjungi tempat ini tepat di hari Jumat sehingga kami bisa merasakan sholat Jumat di masjid ini. Kebetulan kami yang wanita juga dapat mengikuti sholat Jumat di lantai atas. Sungguh perjuangan untuk mencapai lantai atas masjid ini. Jangan dibayangkan bahwa kita akan menemukan tangga yang nyaman untuk naik ke lantai atas, tapi tangga yang kita temukan disini hampir nyaris seperti sebuah tangga menuju loteng, curam dan kecil. Bahkan ketika sudah berada di lantai atas pun, lantainya nampak seperti semen yang tidak rata yang dialasi oleh karpet. Ketidakrataan lantai masih dapat terasa ketika kita menapakkan kaki di lantai. Sesampainya saya di lantai atas, saya menemukan banyak wanita Turki sudah menunggu sholat Jumat dimulai. Dikarenakan saya mengunjungi masjid ini dalam rangka sholat Jumat dan kondisinya ramai, maka saya tidak bebas memotret bagian dalam masjid.

Bagian dalam Blue Mosque
Seperti halnya masjid yang saya kunjungi sebelumnya, masjid ini juga menggunakan lampu gantung dengan kabel yang lumayan panjang dari ujung kubah dan lampu baru terpasang tidak jauh dari lantai. Sepertinya pemasangan lampu yang memiliki kabel yang panjang dikarenakan rata-rata masjid di Turki memiliki kubah yang lumayan tinggi sehingga diharapkan lampu dapat lebih efisien ketika berada lebih dekat dengan lantai. Penerangan masjid di bagian kubah pun lebih mengandalkan kaca patri yang memungkinkan begitu banyak cahaya yang masuk ke dalam masjid.

***

Masih berada di kawasan Sultanahmed Square, terdapat situs bersejarah lain yang dapat kami kunjungi, namanya Hippodrome.  

Hipodrome adalah sebuah area yang saat ini dinamakan Sultanahmet Meydani (Lapangan Sultan Ahmet). Pada masa kekuasaan Kekaisaran Bizantium, area ini adalah pusat sosial dan olahraga di Konstantinopel. Kata “hipodrom” berasal dari kata Yunani “hippos” yaitu “kuda” dan “dromos” yang berarti “jalur” atau “jalan”. Menurut cerita si local guide, pada masa itu area ini merupakan area pacuan kuda. Kekaisaran Romawi pun menghiasi area ini dengan beberapa karya seni seperti tiang ular dan obelisk. Kesultanan Utsmani atau Ottoman tetap menjaga wilayah bersejarah ini, namun bagian atas tiang ular dihancurkan dan dicuri pada masa Perang Salib keempat.

Obelisk

Obelisk


Patung ular

***

Topkapi Palace
Gerbang masuk Topkapi Palace
Pintu Masuk Topkapi Palace
Bagian dalam istana (dapur istana)
Masih berada di lingkungan Sultanahmed Square, selanjutnya kami mengunjungi Topkapi Palace. Topkapi Palace merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah atau Ottoman selama lebih dari 600 tahun (1465-1856). Kepentingan Istana Topkapi memudar pada akhir abad ke-17 karena sultan lebih suka menghabiskan waktu di istana baru mereka di dekat selat Bosporus, yaitu istana Dolmabahce. Pada tahun 1856, Sultan Abd-ul Mejid I memindahkan kediamannya ke Istana Dolmabahce. Setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921, Istana ini dijadikan museum. Terdapat beberapa jenis museum disini, sedangkan yang saya masuki adalah museum peninggalan Nabi Muhammad SAW serta museum peninggalan Kesultanan Utsmaniyah. Namun yang paling populer dan memiliki antrian paling panjang adalah museum peninggalan Nabi Muhammad SAW.



Jalan masuk yang dihiasi bunga-bunga
Setelah pintu kedua, wisatawan memasuki jalan panjang setapak selebar 4 meter. Bunga-bunga menghiasi jalan setapak. Sungguh cantik. Pada saat saya mengunjungi tempat ini, adalah peralihan musim semi ke musim panas, sehingga bunga-bunga yang menghiasi sepanjang jalan adalah bunga mawar beraneka warna. Menurut saya, musim yang paling tepat mengunjungi Turki adalah awal musim semi dimana Dinas Pertamanan Istanbul (sebut saja begitu) akan mengganti semua bunga-bunga baik di jalanan umum maupun di tempat-tempat wisata dengan bunga Tulip. Ternyata bunga Tulip bukan berasal dari Belanda, tapi dari Turki. Sedangkan Dinas Pertamanan Istanbul paling concern dengan keindahan kotanya dimana bunga akan rutin diganti sesuai musim. 



Bagian dalam istana (saya lupa, apa ini)
Bangunan Istana Topkapi terbagi atas empat bagian besar yang dipisahkan oleh tiga gerbang utama. Pada bagian pertama istana terdapat sebuah gereja yang dibangun orang Romawi dan saat ini digunakan sebagai gedung teater. Di bagian kedua istana terdapat hareem section, paviliun, dapur, ruang pertemuan, dan barak militer. Pada bagian ketiga Istana Topkapi terdapat sekolah untuk murid berumur 10 tahun. Semua anak-anak tersebut dipilih oleh sultan dari berbagai pelosok Turki. Sedangkan tempat tinggal para sultan berada di kawasan keempat.


Pintu masuk museum peninggalan Nabi Muhammad SAW

Museum peninggalan Nabi Muhammad terletak setelah kawasan keempat. Di dalam ruangan ini tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Terdapat beberapa peninggalan Nabi Muhammad seperti gigi, jenggot, jubah, dan pedang. Begitupula dengan jubah peninggalan Fatimah, serta pedang-pedang sahabat Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga terdapat beberapa benda terkait dengan Baitullah seperti talang emas, pintu ka'bah, gembok ka'bah, dan penutup hajar aswad. Melihat peninggalan-peninggalan tersebut secara tidak sadar kita akan merasa merinding membayangkan keadaan di masa lalu, membayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Dan saya pun semakin merinding ketika dalam perjalanan menuju pintu keluar museum terdengar lantunan ayat suci Al-Quran dengan suara yang sungguh merdu. Tadinya saya berpikir bahwa itu adalah suara kaset. Tapi betapa terkejutnya saya ketika seorang Turki sedang duduk bersila dengan pakaian khas Turki dan Al-Quran di hadapannya sedang mengaji. Menurut informasi, lantunan ayat suci Al Quran ini dibacakan selama 24 jam selama museum ini berdiri dengan 3 orang yang bergantian membaca Al Quran untuk "menjaga barang-barang pusaka" yang ada di dalamnya. Subhanallah.

Selat Bosphorus terlihat dari dalam istana
Di sebelah museum peninggalan Nabi Muhammad juga terdapat museum keramik dan peninggalan kesultanan Utsmaniyah, namun tidak terlalu populer. 

***

Selanjutnya kami berkunjung ke Grand Bazaar untuk membeli oleh-oleh. Wah, bisa kalap di pasar ini. Katanya sih ini pasar tertutup terbesar dan tertua di dunia. Bayangkan saja, pasar ini memiliki 61 jalan tertutup dan lebih dari 3.000 toko (sumber: wikipedia). Pantas saja ketika kami diberikan waktu bebas untuk berbelanja, kami diharuskan menghapal jalan yang dilewati agar kami dapat kembali ke meeting point, yaitu di masjid yang tidak jauh dari Grand Bazaar. Terus terang saya tidak berani "cuci mata" sampai ke ujung pasar karena khawatir nyasar. Hahaha. Jadilah saya hanya berbelanja di kios-kios terdepan.

Ada beberapa oleh-oleh khas Turki seperti gantungan Blue Eyes/Evil Eyes (gantungan semacam mata satu berwarna biru yang diyakini orang jaman dulu sebagai jimat), Turkish delight (semacam manisan khas Turki dengan beberapa isian kacang-kacangan, yang paling enak isi kacang Pistachio), coat khas Turki, jilbab khas Turki, dompet atau rajutan-rajutan khas Turki.


Minggu, 10 April 2016

Hope to see you again, Istanbul (Part 2)

Akhirnya tibalah hari keberangkatan. Rute perjalanan kami kali ini adalah Jakarta > Singapura (transit) > Istanbul > Makkah > Madinah > Istanbul (transit) > Jakarta. Lama perjalanan umroh plus Turki kali ini kurang lebih 12 hari. Dikarenakan saya hanya mendapat jatah cuti umroh selama 9 hari, maka sisanya memotong jatah cuti tahunan saya. Dan untuk perjalanan saya ke Turki tidak ada yang mengetahuinya di kantor selain atasan saya dan orang yang saya limpahi pekerjaan. Hehehe. Kami akan menghabiskan 4 hari di Istanbul.

Kami berangkat jam 19.50 dari Cengkareng dengan menggunakan Turkish Airline. Perjalanan normal jakarta-istanbul adalah 14 jam, tetapi pesawat kami harus transit di Singapore sekitar 1 jam. Kami sampai di Attaturk Airport Istanbul pagi-pagi sekali. Seorang local guide menyambut kami. Namanya Abdur Rozak. Bahasa Indonesianya lancar meskipun harus terbata-bata ketika mengucap kata yang memiliki huruf “N” dan “G” yang bertemu alias "NG".

My lovely mom and dad
Kota Istanbul adalah kota yang berada dalam dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa, sedangkan Attaturk Airport berada pada sisi benua Eropa. Sesampainya dari bandara, kami langsung diajak ke Marina Restaurant (B&N Kitchen) untuk sarapan. Dikarenakan judulnya adalah "Breakfast", maka sarapan kami pun ala-ala orang barat, yaitu roti, selai, dan telur. Padahal ini saya namakan camilan, bukan sarapan. Hahaha. Untungnya selai strawberry yang disajikan sungguh nikmat. Strawberrynya masih nampak beberapa potongan utuh di dalamnya yang menunjukkan bahwa selai ini bukan buatan pabrik. 


 ***

Setelah sarapan kami langsung menuju Ayyub Al Ansari Mosque. Disini saya sempat takjub dengan masjid yang ramai dikunjungi beberapa orang bahkan termasuk non muslim. Dimana ketika non muslim mengunjungi tempat ini maka mereka wajib menggunakan pakaian yang sopan dan memasang pasmina di kepala mereka layaknya kerudung. Adapun pasmina tersebut dipinjamkan di pintu masuk masjid dan dikembalikan jika sudah selesai. 

Di suatu sudut halaman masjid nampak sebuah makam yang dilindungi teralis dimana tampak beberapa orang berdiri sambil berdo'a dan menangis. Bahkan almarhum ayah pun sempat menitikkan mata mengingat kisah Ayyub Al Ansari. Siapakah Ayyub Al Ansari ?

Ayuub Al Ansari ternyata adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang luar biasa. Sewaktu utusan Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat dalam baiat Aqabah Kedua, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela. Dan dialah yang beruntung rumahnya ditempati oleh Rasulullah di saat Rasulullah baru hijrah ke Madinah.

Sejak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Pendek kata, hampir di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT,"Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41).

Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Demikianlah, ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera memegang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan.

Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Dan sungguh, wasiat Abu Ayub itu telah dilaksanakan oleh Yazid. Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pekuburan laki-laki besar.

Hingga sebelum tempat itu dikuasai orang-orang Islam, orang Romawi dan penduduk Konstantinopel memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan."

Jasad Abu Ayub Al-Anshari masih terkubur di sana, namun ringkikan kuda dan gemerincing pedang tak terdengar lagi. Waktu telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat tujuan. Abu Ayub telah menghadap Ilahi di tempat yang ia dambakan. (sumber: Republika)

***

Setelah dari masjid Ayyub Al Ansari kami melanjutkan perjalanan ke Hagia Sophia. Hagia Sophia memiliki nama lain Aya Sofya (bahasa Turki). Banyak hal yang menarik dari Hagia Sophia ini dan sungguh setelah mengetahui sejarah Hagia Sophia ini ada berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati, antara terharu, bangga, dan sedih. Saya selalu merinding ketika mendengar kisah penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. 


Sisa-sisa benteng Kostantinopel
Kontantinopel adalah ibukota kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi telah berlangsung hampir selama 1.500 tahun. Dikarenakan Benteng Kontantinopel memiliki pertahanan yang kuat, tidak ada yang mampu menaklukkannya bahkan dari jaman sahabat Rasulullah. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa benteng itu akan ditaklukkan seorang pemimpin yang merupakan sebaik-baiknya pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baiknya tentara.



Sisa-sisa benteng Kostantinopel
Muhammad Al Fatih adalah Sultan dari Kerajaan Utsmani yang sejak kecil telah memiliki impian untuk menaklukkan benteng Konstantinopel dan di usianya yang ke 21 tahun dia memimpin pasukannya untuk menyerang konstantinopel. Dia membawa lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Namun upaya penyerangan dari darat tidak juga berhasil karena kuatnya pertahanan benteng tersebut bahkan banyak pasukan Utsmani yang gugur.



Sisa-sisa benteng Kostantinopel
Muhammad Al Fatih menemukan kelemahan pertahanan Romawi adalah pada Golden Horn, namun daerah tersebut merupakan selat sempit yang dilindungi rantai besar sehingga kapal perang ukuran kecil pun tidak bisa masuk. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan melintasi rantai tersebut. Akhirnya Muhammad Al Fatih melakukan cara dengan memerintahkan pasukannya menarik dan menggotong kapal mereka melalui jalan darat, melewati pegunungan. Dalam semalam 70 kapal laut pindah dari selat Bosphorus menuju selat Golden Horn, untuk kemudian melancarkan serangan tidak terduga yang berakhir dengan kemenangan yang dinanti berabad-abad. Sungguh mereka adalah sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya tentara.

Tiket masuk
Gambar sakral gereja
Sejarah Hagia Sophia juga berkaitan dengan perjuangan Muhammmad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Ketika kemudian terjadi perpindahan kekuasaan dari kerajaan Romawi kepada kesultanan Utsmaniyah, terjadi juga perubahan fungsi dari Hagia Sophia yang awalnya sebagai gereja menjadi sebuah masjid. Berbagai modifikasi dilakukan agar bangunan menyerupai masjid, dimana diantaranya adalah menutupi simbol kristen dengan cat dan membangun beberapa menara.


Dan hal yang membuat saya sedih adalah ketika terjadi masa peralihan Turki dari masa Kesultanan ke masa Turki sekuler yang ditandai dengan munculnya Mustafa Kemal Ataturk yang membuat beberapa kebijakan yang sekuler. Pada tahun 1937 Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi sebuah museum. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikelupas dari cat-cat kaligrafi hingga diketemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Sejak saat itu Hagia Sophia menjadi salah satu obyek wisata di Turki yang memiliki gaya arsitektur Bizantium (Romawi) yang mempesona.

Adapun Turki sendiri sejak pemerintahan Mustafa Kemal Atatturk benar-benar menjadi negara yang sekuler dan kebarat-baratan. Bahkan beberapa anak mudanya telah jauh dari agama Islam dan terdapat kecenderungan tidak menganut agama apapun (menurut informasi dari local guidenya). Untunglah sejak pemerintahan saat ini, pemerintah mulai menumbuhkan nilai islami kembali. Bahkan mereka sedang mengupayakan agar Hagia Sophia dapat berubah fungsi kembali menjadi masjid.



Hagia Sophia atau Aya Sofya


Gambar malaikat di dua sisi atas dan kaligrafi di dua sisi bawah


***

Sepulang dari Hagia Sophia kami mengunjungi sebuah pabrik jaket kulit, namanya Tol & AR Leather. Ketika baru masuk ke dalam toko, kami langsung diarahkan masuk ke sebuah ruangan besar. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah panggung yang biasa digunakan untuk catwalk dilengkapi dengan kursi-kursi penonton. Kami pun dipersilahkan duduk seperti akan menikmati sebuah pertunjukan. Kami disuguhi segelas minuman sambil menunggu pertunjukan dimulai.




Tiba-tiba muncul seseorang laki-laki tampan (kayaknya semua orang di Turki ganteng-ganteng dan cantik-cantik deh, termasuk tukang sapu sekalipun) berdiri di atas panggung seolah-oleh sebagai MC. Dia adalah bagian dari pertunjukan yang akan ditampilkan di panggung tersebut. Kemudian dia mulai memperkenalkan Tol & AR Leather. Dia menjelaskan bahwa Tol & AR adalah pabrik jaket kulit terbaik di Turki (katanya). Bahkan beberapa produknya digunakan oleh merk fashion ternama dunia tetapi dengan diganti merknya menjadi merk fashion ternama tersebut. Mereka mengklaim bahwa jaket kulitnya memiliki kualitas super, sampai-sampai si MC memperagakan adegan meremas-remas jaket di tangannya sampai kusut kemudian mengibas-ngibaskan lagi. Dan jaket tersebut tetap mulus alias tidak kusut !!! Dia mengklaim jaket tersebut dibuat dari kulit domba yang super tipis.

Tidak lama kemudian pertunjukan dilanjutkan dengan fashion show produk jaket kulit mereka. Beberapa pria tampan dan wanita cantik berlenggak-lenggok diatas catwalk. Bahkan salah seorang anggota rombongan kami diajak ke atas panggung untuk ikut memeragakan.

Setelah pertunjukan, kami diajak ke ruangan lainnya, yaitu ruangan display produk mereka. Terdapat dua bagian disana, yaitu jaket yang masih "up to date" dan jaket yang "out of date". "Out of date" disini mereka artikan bahwa jaket tersebut sudah tidak mengikuti musim lagi (disinilah kecenderungan negara 4 musim yang harus selalu mengganti fashion sesuai musim). Jaket-jaket "out of date" dibanting harganya dan disamaratakan seharga 300 USD. Sedangkan jaket-jaket yang masuk kategori "up to date" dihargai harga normal (saya melihat harga di webnya sekitar 580 EURO sampai 3.600 EURO).

Saya menemukan jaket yang bagus sekali, sayangnya ketika saya memegang label harganya saya sedikit syok dengan harga sebesar 700 USD. Beberapa produk di area "up to date" memang cenderung lebih bagus dibanding yang "out of date". Kalau dipikir-pikir sekarang, kayaknya yang "out of date" itu pantas disebut produk yang tidak laku dibanding produk yang lewat musim. Tapi parahnya saya terjebak di area ini dengan membeli 2 jaket kulit, yaitu buat saya dan adik saya. Hiks. Waktu itu saya berpikir tidak apalah beli ini buat kenang-kenangan dari Turki, daripada beli coat yang kayaknya bakal gak kepakai di Indonesia. Dan untuk pertama kalinya jaket tersebut saya gunakan waktu ke Korea Selatan. Hahaha...